Kisahku Pasca Melahirkan

I’m not okey!
Entahlah, ini depresi atau bukan namanya. Yang jelas, hari-hariku seolah berada dalam satu ruangan bertembok tanpa pintu, tanpa cahaya. Tak bisa keluar dan gelap. Dengan berat hati kukatakan kalau masa-masa ini adalah masa terberat sepanjang masa pernikahanku.
Kupikir semakin hari akan semakin membaik, mungkin kesedihan yang aku rasa hanya bagian kecil dari yang namanya baby blues pasca melahirkan. Nyatanya, bahkan hingga 17 hari berlalu, hatiku masih tetap sama, hampa dan gelap.

Kalau kebanyakan orang akan sedih karena lingkungan yang tidak mendukung, misal disakiti atau terdzolimi, maka lain halnya dengan aku. Kesedihan dan stres yang aku alami justru datang sebab orang disekelilingku adalah orang-orang yang baik, lebih tepatnya sangat peduli denganku.
Mereka mau susah payah membantuku mengurus bayi. Mulai dari menggantikan popok, mencuci pakaian sampai menenangkannya hingga terlelap tidur.

Segala bantuan itu ternyata tak membuatku bahagia atau merasa tenang. Kalau ditanya apa yang aku inginkan sekarang? Aku ingin pulang! Pulang ke rumah, tinggal bersama keluarga kecil dengan damai dan bebas bergerak.

Ya, aku merasa terperangkap di sini. Mungkin aku merasa tidak bisa bebas bergerak. Segala gerak-gerikku diperhatikan orang-orang. Khawatir dengan omongan orang jika aku melakukan sesuatu yang tidak sesuai.

Aku pernah berencana melahirkan di Tuban, tempat tinggal aku bersama suami. Namun disatu sisi, anjuran mertua agar melahirkan di rumah beliau, kekhawatiran keluarga dan provider melahirkan di Tuban yang kurang mendukung, membuatku seolah terjebak dan akhirnya memutuskan melakukan persalinan di rumah keluarga suami.
Aku pikir, semua akan baik-baik saja. Justru menyenangkan karena banyak orang, berbeda dengan di Tuban yang hanya ditinggali aku dan suami saja.

Nyatanya, tinggal sendiri menjadi jauh lebih menyenangkan dibanding tinggal bersama orang tua. Psikisku sudah lebih dahulu terbanting sejak hari pertama persalinan.
Aturan demi aturan, larangan dan pantangan serta masukan usai melahirkan dari orang sekelilingku, justru membuatku ngedrop. Sejak saat itu, hari-hariku dihiasi dengan tangisan. Kesedihan itu yang tak jua kutemui solusinya, yang sampai hari ini sedih itu sudah berubah menjadi amarah.

Ya, aku marah dengan diriku sendiri. Marah karena tak jua bisa berdamai dengan keadaan. Marah kenapa aku tak jua bersyukur dan mengerti keadaan keluarga suami. Masih berkutat dengan perasaan diri sendiri. Kalau aku saja sebagai seorang ibu belum bisa menuntaskan diri sendiri, lantas bagaimana bisa aku menjadi ibu yang benar?

Keinginanku pulang ke Tuban, hanya membuat sedih keluarga suami. Bagaimana mungkin aku merajuk ingin pulang sedang 40 hari pascamelahirkan belum sepenuhnya usai? Masih ada sisa 20 hari lagi. Bagaimana dengan perasaan ibu dan bapak? Bukankah ini membuat mereka sedih karena seolah tak bisa berhasil membuatku nyaman di rumah?

Lantas, bagaimana dengan omongan masyarakat sekitar, yang notabene memiliki adat kebiasaan bahwa 40 hari usai persalinan tidak boleh keluar rumah dan masih harus menerima tamu?

Apa aku tidak memikirkan itu?
Tentu saja aku memikirkan. Jelas, itu yang akhirnya membuatku berkecamuk antara hasrat kuat ingin pulang dan alasan kuat agar tetap tinggal di sini.
Suami? Tentu suami tidak ingin durhaka dengan melawan aturan orang tua. Surgaku ada pada suami, sedang surga suami ada pada ibunya.
Apa lagi yang bisa kuperbuat selain tetap patuh pada suami, bersabar dan mencoba terus berdamai dengan keadaan.

Aku harap, aku masih tetap waras hingga waktu kepulangan tiba. Ya, selamat berjuang dalam kesabaran. Semoga bisa lulus. Aamiin 🙂

Iklan

Aku Hamil Nggak Yaa?

Ini tanda-tanda mau haid apa hamil ya? Mirip-mirip soalnya…

Aku menikah tanggal 23 Juni 2018 lalu. Sekitar seminggu sebelum jadwal masa haid datang. Biasanya haidku rutin teratur, telat pun paling jauh 1 mingguan. Loh ini sekarang sampai tanggal 18 Juli 2018 pun belum juga kunjung haid.

Lumrahnya orang, kalau sehabis nikah lantas haidnya telat, maka apa yang biasa orang simpulkan? Hamil!! Yap, mengandung si buah hati. Apa itu benar?

Read More

Haters? Enaknya Diapain yaaa

Assalamualaikum selamat pagi semua 🙂

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas izinNya aku masih diberikan kesempatan menulis kembali, dengan suasana hati yang InsyaAllah senantiasa damai ini. Semoga hanya hati yang senantiasa tentramlah yang hadir dalam kehidupan kita. Aamiin

Pagi ini, aku tergugah menulis sesuatu yang lumayan menggelitik jemariku bergerak kembali. Sesuatu yang membuatku panas sesaat, tapi cukup untuk membuatku merenung kembali.

Apa itu?

Read More

Soal Duniawi, Aku Tak Seberuntung Itu

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Pernahkah rasanya kamu ingin jatuh saja ketika lagi-lagi mengalami kegagalan? Seberat apa rasanya bangun dari keterpurukan? Apa yang kamu pikirkan saat lagi-lagi jatuh? Menyerahkah? Atau tak gentar untuk maju kembali?

Wahai diri, kamu mungkin tak sehebat itu. Berpura-pura menjadi superman, yang bukannya bisa menangkap musuh, tapi malah sebaliknya, terperangkap jebakan musuh. Wahai diri, berhentilah sejenak memaksakan kalau kamu itu hebat. Menyerahlah…

Read More

Stop Katakan Nikah!

Akhir-akhir ini batin rasanya lebih tersiksa dari biasanya, dari umur sebelum 20 tahunan seperti sekarang.

5 tahun silam di Pare

“Miss, aku pengin nikah. Tapi …..”, teman kamarku berguling-guling di ranjang.

“Tapi gimana miss?” ujarku penasaran

“Tapi bapakku nggak setuju sama cowok yang aku suka ini miss”

Aku yang notabene masih remaja cuma menyabarkan aja, heran aja kok orang pengin nikah sampai segitunya ya, kayak galau bangettt gitu. Hehe

Tarrrrraaaaa…2017, 2018

Read More